Butuh Kualitas Tinggi untuk Tembus Festival Film Surabaya

foto by : Gilang Soetomo Cilacap

Beberapa status fesbuk pelajar diramaikan dengan kata-kata bernada kecewa, lantaran dirinya tidak puas dengan hasil putusan juri pada Festival Film Surabaya 2018. Yaa, anggap saja ini biasa. Yang menjadi tidak biasa adalah penjelasan dari pihak juri yang menyatakan tidak ada penghargaan untuk kategori dokumenter.

Festival Film Surabaya yang diselenggarakan 27-29 April 2018 ini menyedot ratusan pelajar dari berbagai daerah untuk hadir dalam satu peristiwa penting, yaitu temu para pembuat film dari kalangan pelajar, akademisi, mahasiswa dan umum. Dari daftar nominasi yang dipublikasikan melalui media sosial nampak berderet judul untuk kategori Film Fiksi, Film Dokumenter, Animasi, Video Klip Musik, Iklan Layananan Masyarakat dan juga mahasiswa dan umum. Berderet judul karya anak bangsa berkompetisi diajang yang disupport oleh Pusbang Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tiba saat penganugerahan dibacakan. Tentunya beberapa pelajar yang hadir malam itu sudah menanti dengan degub jantung berdebar-debar. Di setiap kategori dibacakan nominasinya dan juga ditentukan pemenangnya. Tapi tidak untuk kategori dokumenter. Kategori dokumenter hanya dibacakan nominasinya saja. Dan tidak diumumkan pemenangnya.

Kejadian seperti ini memang sudah pernah terjadi di beberapa festival. Juri menyatakan bahwa tidak ada yang layak untuk dimenangkan karena suatu hal.

Tengah malam, WA saya dipenuhi dengan pesan dari para pelajar didikan Sangkanparan yang kala itu hadir ke Festival Film Surabaya. Oyaa mereka nekad utang sana-utang sini demi bisa berangkat dan hadir dalam acara Festival Film Surabaya yang mereka idaam-idamkan. Dalam pesan tersebut mereka bercerita kalau untuk kategori film dokumenter ngga disebutin pemenanngnnya, lantaran juri menganggap karya dokumenter yang masuk masih biasa-biasa saja cara penyajianya.

Alfa Khurohman, pelajar SMKN1 Karanggayam melalui pesan WAnya bercerita pada saya

“Film dokumenter tidak ada yang menang, penginnya mereka film dokumenter-nya lain dari yang lain contohnya teknik penyajiannya atau cara penyajian ,Kalo dokumenterku dan yg lain itu sudah bagus tentang TPGnya, editingnya, mereka juga sudah ngeapresiasi karya kita. Mereka bilang dokumenter ini masih biasa, Cara penyajianya Maunya mereka adalah film dokumenter yg lebih bagus. Intinya mereka menginginkan untuk Kita naik ke level dokumenter yg selanjutnya.” Ungapnya melalui pesan WA.

Berbeda lagi dengan Novia Ist pelajar SMKN1 Kebumen yang sudah susah payah ijin sekolah serta cari dana buat transpoort ke Surabaya berbagi kekesalan melalui WA-nya.

“Disini banyak yang nyesel beh, banyak yang kecewa. Kenapa dokumenter kok ga dapet peenghargaan apa-apa. Padahal kan mereka mengumumkan nominasinya. Ibaratnya kan jadi ga ada nnominasinnya ya beh? Kita juga percuma datang kesini?”

Belum lagi guru-guru pada pendamping yang menyayangkan hal ini terjadi. “Kalo FFS mau memberikan motivasi ke pelajar harusnya justru ada penghargaan, atau dengan cara lain misal semua film yang masuk jadi nominasi itu dapet penghargaan semua, bisa jadi penghargaan khusus. Lha ini mereka memberikan saran agar ddokumenternya lebih bagus dan berbobot, tapi penyelenggara ngga memberi penghargaan apa-apa, kan lucu hehehe”

Melihat hal diatas, saya jadi teringat awal tahun 2000-an muncul istilah Dokumenter anak tiri perfilman Indonesia. Saya memaklumi dan bisa merasakan kekecewaan para pembuat film dokumenter yang masih duduk dibangku sekolah (SMA/SMK). Apalagi melihat beberapa judul yang menjadi nominasi dalam ajang tersebut, semuanya adalah film berkualitas (menurut saya). Sebut saja film-film pelajar Denpasar yang tak lepas dari persoalan kajian dan riset. Para pelajar melakukan riset mendalam tentang sejarah, pendekatan sosial yang mereka laukan kepada masyarakat dan pelaku pelestari budaya di Bali bukan merupakan hal mudah. Untuk kemudian mereka kemas dalam bentuk visual. Ini hal yang mennyangkut soal edukasi. Belum lagi cara mereka bertutur dalam film yang harus mereka pikirkan baik-baik. Dan munculnya judul mereka menjadi nominator dalam Festival Film Surabaya sudah pasti dikarenakan film tersebut unggul dari pada film-film lain yang akhirnya tidak lolos seleksi.

Keputusan Juri FFS memang tidak dapat diganggu gugat. Namun penjelasan yang diberikan mungkin terkesan tidak dapat diterima oleh para pelajar jamaah dokumenteriyah yang kala itu hadir di event tersebut. Disisi lain, paniitia menganggap film-film dokumenter pelajar ini biasa-biasa saja. Sekali lagi dalam tanda kutip “BIASA-BIASA SAJA”. Apalagi menyoal penyajian. Penyaajian seperti apakah yang seharusnya baku dalam film dokumenter ? Tekhnik Pengambilan Gambar seperti apakah yang harus dilakukan oleh para pelajar ini agar dokumenternya dianggap bagus? Lalu agar pelajar “levelnya naik ke level selanjutnya” itu bagaimana? Sementara dalam ajang tersebut sama sekali tidak ada forum yang membahas soal dokumenter untuk pelajar. Seolah pelajar yang sudah susah payah berpikir mewujudkan pesanya melalui film dokumenter ini hanya diajak bersenang-senang saja dalam jumpa filmaker di acara tersebut.

Saya tidak membahas soal karya lain seperti Film Fiksi, animasi, video klip atau iklan layanan masyarakat, lho yaa.. atau tentang bagaimana cerita yang disampaikan, penyajianya atau bahkan tekhnik pengambilan gambar untuk film fiksi dan animasi. Saya hanya ngobrolin soal dokumeter yang dianggap “biasa-biasa saja” ini. Bisa jadi memang kualitas film yang masuk di Festival Film Surabaya ini memang harus luar biasa. Tak bisa kita remehkan memang, pelajar saat ini dengan teknologii dan kecanggihan peralatan bisa menciptakan visual yang luar biasa. Mereka lebih piawai mengoperasikan peralatan canggih di era global. Bisa jadi memang karya-karya yang masuk benar-benar berkualitas. Dan yang “biasa-biasa saja” hanya film dokumenter.

Bagi saya, yang selama ini bergaul dengan para pelajar yang unyu-unyu nan lugu, apalagi yang berdomisili di desa-desa, nggunung dan bukit yang jauh dari refrensi tentang dunia film juga menyayaangkan hal ini terjadi. Kasian, mereka kan hanya punya status pelajar 3 tahun. Sementara saat  gelora jiwa mudanya mengatakan bangga filmnya lolos seleksi dan menjadi nominator di acara yang mereka anggap bergengsi eh filmnya dianggaap “biasa-biasa aja” oleh dewan penilai.

Akhirnya saya mencoba merangkai kata, yang sebenarnya saya yakin tidak perlu di sampaikan pada mereka. Saya percaya mereka telah legowo dengan apa yanng baru saja mereka rasakan.

“Sabar ya…film kalian sudah masuk / lolos dalam ajang festival itu sudah luar biasa. Bahkan kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika kalian bisa mewjudkan ide cerita kalian menjadi sebuah film. Aku salut pada kalian ! Tetap semangart ya !”

Semoga, semangat yang kami tanamkan untuk para pelajar tidak pudar hanya karenna kekecewaan yang mereka bawa dari Festival Film Suabaya 2018.
Selamat dan Sukses untuk penyelenggaraan Festival Film Surabaya 2018. Semoga bisa menjadi ajang kreatifitas pelajar dalam berkarya melalui film. Terutama yang menyangkut dunia “pendidikan”.

(Insan Indah Pribadi)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s