Monolog SANG BINTANG dipentaskan di ruang terbuka

Sabtu malam, pelataran Rumah Belajar Sangkanparan sudah diramaikan oleh ratusan orang yang sudah siap untuk menyaksikan sebuah pertunjukan teater monolog berjudul SANG BINTANG. Kegiataan yang dilaksanakan dalam nuansa hari Kartini ini menyuguhkan sebuah pertunjukan teater di halaman terbuka.

SANG BINTANG berkisah tentang seorang prempuan yang terobsesi menjadi bintang. Pergi meninggalkan kampungya tujuanya ke kota ingin hidup coba-coba. Namun kebintangan yang dijalani justru merubah banyak hal. Hingga kehancuran melanda. Kisah ini tertulis pada sebuah buku Kumpulan Lakon Monolog “Sampai Depan Pintu” karya Whani Darmawan. Naskah berjudul SANG BINTANG ini kemudian dipilih oleh Dewi Kusumawati untuk diangkat menjadi sebuah pertunjukan.

Dewi Kusumawati selaku sutradara dalam pementasan ini, memberikan kesempatan kepada Dewi Aminah untuk membaca naskah berjudul SANG BINTANG. Dewi Aminah seorang pelajar SMKK N1 Karanggayam, kala itu sedang menjalani masa Prakerin di Sangkanparan. Dirinya lalu mempelajari naskah tersebut, membaca berulang, menghafalkan dan mencoba menyelami kehidupan dalam cerita. Proses kreatif yang dijalani oleh Dewi memang tergolong singkat. Dirinya harus bisa mewujudkanya pada sebuah pementasan teater monolog tepat di hari Kartini, 21 April 2018.

Ini merupakan peristiwa yang paling berkesan bagi Dewi, pasalnya dirinya sama sekali tidak memiliki basic apapun dalam dunia seni pertunjukan. “Saya ngga punya basic dalam dunia seni perunjukan, ini pengalaman pertama saya penas teater, apalagi ditonton oleh ratusan orang.” Ungkapnya. Ya malam itu, tak hanya warga sekittar Desa Tritih Lor, Jeruklegi saja yang hadir namun juga komunitas dari berbagai daerah seperti Adipala, Kroya, Kebumen, Gombong,  Jogja dan Solo.

Acara dimulai sekitar pukul 19.30 WIB, dengan pertunjukan Tari tradisi oleh Yuliono dari Sanggar Priambodo. Dilanjutkan dengan pertunjukaan teater monolog Sang Bintang. Kemudian setelah acara usai, diskusi dilaksanakan untuk sekedar mengupas peristiwa budaya yang baru saja terjadi.

Dalam diskusi tersebut, beberapa komunias memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Sangkanparan karena telah berhasil menggelar acara di halaman terbuka. Seperti halnya Bowo seorang perupa asal Cilacap yang sejak awal memberikan apresiasi dan bercerita tenang pentingnya seniman mencipkan ruang-ruang kreatif. Sangkanparan sendiri menggelar kegiaatan di pelataran rumah disaksikan oleh warga desa sekitar, dan dikunjungi oleh banyak orang dari berbagai daerah. “Dengan kekuatan sosial media, Sangkanparan mampu menyedot penonton dari berbagai daerah untuk hadir di desa Tritih Lor, ini hal yang sangat luar biasa.” Ujar Bowo. Sementara di Cilacap sendiri tidak ada gedung yang represenatif untuk berkesenian.

Sementara, Insan Indah Pribadi yang kala itu bertindak sebagai pimpinan produkssi dalam pementasan tteatter monolog SANG BINTANG berharap, adanya jalinan silatturahmi antar komunitas atau pelaku seni di Cilacap untuk bersama-sama menciptakan ruang-ruang berkesenian secara kreatif. “Hubungan kerjasama anttar komunitas atau pelaku seni sangat penting, karena bisa mewujudkan hal yang sebelumnya dibayangkan tidak mungkin, menjadi sangat mungkin terwujud.” Ungkap Insan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s