Catatan Produksi Dokumenter Pelajar “BREKECEK”

Ditulis oleh : Rizki Eka Saptiani (Pelajar SMKN 1 Kebumen)

 

Kamis, 14 September 2017 pelajar SMK N 1 Cilacap tengah melaksanaakan produksi dokumenter kedua yang disutradarai oleh Fatma Dhimayanti. Fatma memfilmkan tentang makanan khas Cilacap yaitu Brekecek. Produksi Dokumeter pelajar SMKN1 Cilacap dibantu oleh pelajar dari SMK N 1 Kebumen, SMK Muhammadiyah Majenang dan SMK N 1 Karanggayam. Mereka semua tengah menjalani program Prakerin di Sangkanparan Cilacap.

Pukul 07.00 talent yang diijadikan sebagai subjek dalam film ini, sudah datang di markas besar Sangkanparan, kami bersiap untuk pengambilan gambar. Talent tersebut bernama Puspita Melanningrum dan Mega Arsihta Sary. Mereka beradegan sebagai remaja yang sedang lapar kemudian melihat iklan Brekecek Pathak Jahan di Facebook dan segera menghubungi ke nomor yang telah tertera untuk delivery order. Namun, karena warung tersebut akan mulai memasak, kedua remaja tersebut meminta untuk melihat proses pembuatannya dan pemilik rumah makan mengijinkan mereka. Puspita dan Mega segera menuju ke Rumah Makan Brekecek Pathak Jahan yang terletak di Jl. Slamet No. 5, Cilacap.

Sesampai di rumah makan tersebut Puspita dan Mega bertemu dengan Bapak Widianto S.H untuk memulai pembuatan brekecek. Langkah pertama yang dilakukan yaitu membersihkan kepala ikan jahan dengan cara disikat. Selanjutnya urusan masak memasak dengan Ibu Winarni selaku istri dari Pak Widianto. Mereka memasak di tempat yang telah disediakan. Kepala ikan jahan yang telah bersih kemudian direbus dengan daun salam. Sembari menunggu kepala ikan jahan selesai di rebus, mereka menumbuk bumbu brekecek. Bumbu brekecek berupa bawang merah, bawang putih, jahe, ketumbar, kunyit, laos, serai, lengkuas, daun salam, garam, cabai, gula pasir dan beberapa bumbu rempah lainnya. Bumbu yang digunakan oleh Bu Winarni adalah bumbu pilihan sehingga kualitas dan cita rasa brekecek di rumah makan beliau terjamin kehigienisan dan rasanya. Setelah bumbu ditumbuk halus kemudian ditumis hingga bumbunya harum kemudian masukkan air dan kepala ikan jahan secara bergantian. Tunggu hingga mendidih beberapa menit.

Sembari menunggu brekecek yang diolah matang, para kru bergantian untuk melaksanakan salat zuhur. Pada jam makan siang di rumah makan ini semkin ramai. Kebanyakan pelanggannya adalah guru dan pejabat sekitar. Tetapi terkadang juga ada pembeli dari luar kota seperti Semarang, Jogja, Bandung dan beberapa kota lainnya.  Nama Brekecek sendiri berasal dari kata “breg” dan  “kecek”. Breg diibaratkan bunyi banyaknya bumbu rempah yang di masukan kedalam lumpang sedangkan kecek adalah bunyi kecek-kecek yang dihasilkan dari menumbuk bumbu rempah tersebut. Dari kombinasi tersebut maka dinamakan Brekecek. Brekecek dijadikan makanan khas Cilacap berdasarkan SK Bupati Cilacap No. 556/501/18/2014. Untuk olahan brekecek tidak hanya kepala ikan jahan tetapi ada juga brekecek basur.

Setelah matang, brekecek disajikan untuk Mega dan Puspita. Mereka terlihat menikmati santapan mereka. Adegan tersebut menutup shooting pada hari ini. Setelah itu kami berkemas dan berpamitan kepada Pak Widianto dan Ibu Winarni. Sekitar pukul 14.00 kami sampai di markas Sangkanparan untuk beristirahat dan makan siang. Tak lupa kami mengevaluasi hasil produksi hari ini. Setelah semua shootlist dirasa lengkap, maka film produksi yang di sutradarai oleh Fatma dinyatakan, BUNGKUS!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s