Anak Didik Sangkanparan Borong Penghargaan DENPASAR FILM FESTIVAL 2017

“Digulung pasir URUT SEWU, ditenggelamkan ROB dan dibawa arus CITANDUY sampai ke pulau BALI, Rahajeng B’li, Sukses untuk anak didik Sangkanparan” begitu pesan singkat yang masuk dari Teguh Rusmadi, menyusul banyak ucapan selamat yang masuk baik via WA, inbox FB, BBM maupun SMS.

Usai sudah gelaran Denpasar Film Festival 2017. Festival yang menginjak tahun ke 8 ini memberikan penghargaan kepada film-film yang mengangkat tema Air, Perempuan dan Anak-anak. Muncul sebagai film terbaik dalam Denpasar Film Festival 2017 kali ini adalah 1880 MDPL karya Riyan Sigit Wiranto dan Miko Saleh dari Aceh, sementara dokumenter pilihan dewan juri diberikan kepada film berjudul ANAK KOIN karya Chrisila Wentiasri dari Bandar Lampung dan satu lagi, penghargaan film dengan tekhnis penyajian instruksional edukasi terbaik diberikan untuk film berjudul PERAHU SANDEQ karya Gunawan Hadi Sucipto dari Jogja. Sementara film berjudul JALAN SUNYI KEHIDUPAN, karya Ismayanti dari Jakarta dan UDIN dan CERITA KECIL LAINYA karya Donny P Herwanto dari Jakarta masuk sebagai film unggulan dalam gelaran DFF 2017.

Pada puncak acara Malam Penganugerahan DFF2017 yang digelar tanggal 10 September 2017 di Istana Taman Jepun Denpasar, Slamet Rahardjo Djarot memberikan apresiasi tinggi kepada para pelajar yang filmnya masuk dalam DFF 2017. Baginya film-film yang masuk dalam gelaran Denpasar Film Festival tahun ini semakin menunjukan keseriusanya. “Bahkan film-film pelajarnya, secara kualitas dan kuantitas sudah hampir menyamai film kategori umum.” Ungkap aktor dan juga sutradara yang didapuk menjadi ketua Dewan Juri dalam gelaran Denpasar Film Festival 2017.

Untuk kategori Pelajar, DFF memberikan 3 penghargaan film terbaik. Dokumenter Terbaik 1 diraih oleh film dengan judul URUT SEWU BERCERITA karya Dewi Nur Aeni dari SMKN1 Kebumen. Dokumenter Terbaik 2 diraih oleh film dengan judul ROB karya Fatimatuz Zahra dari SMKN2 Pekalongan, sementara Dokumenter Terbaik 3 diraih oleh film berjudul PENAMBANG PASIR CITANDUY karya Dwi Novita Sari dari SMK Muhammadiyah Majenang. Ketiga film tersebut berhasil menyisihkan 2 film lainya yang sebelumnya masuk menjadi nominator dalam gelaran Denpasar Film Festival 2017.

Sebagai informasi, ketiga film yang mendapat penghargaan dalam ajang DFF2017 adalah karya pelajar yang digarap pada saat mereka melaksanakan program prakerin di Sangkanparan.

Fatimatuz Zahra salah satu pelajar dari SMKN2 Pekalongan menyatakan kebahagiaanya. Dirinya tidak menyangka filmnya dapat penghargaan dalam ajang Denpasar Film Festival 2017. “Aku ngga nyangka film ini dapet penghargaan. Semoga temen-temen seneng dengernya.” Ungkap perempuan yang saat ini duduk di bangku kelas XII SMKN2 Pekalongan.

Masih berkaitan dengan pelajar, pada tahun ini DFF juga menggelar kompetisi untuk kategori pembinaan. Peserta dalam kategori ini adalah para pelajar yang terpilih dalam seleksi awal, yang kemudian mendapat pembinaan dalam Kemah Pelatihan Produksi Film Dokumenter. Mereka mendapatkan pendampingan selama produksi film. Dan film-film terbaik hasil dari pendampingan tersebut menjadi Duta Kota Denpasar di ajang Kompetisi Film Dokumenter kota-kota pusaka Dunia (OWHC) di Korea Selatan. Film-film terbaik untuk kategori ini adalah Sang Penjaga Beji, karya Anak Agung Istri Sari Ning Gayatri – SMAN1 Denpasar, Tradisi Turunan karya Sathyana Rayna dari SMKN1 Denpasar dan Penjaga Lontar karya I Made Pradana Kusuma Putra dari SMAN3 Denpasar.

Menurut penuturan Maria Ekaristi pengelola Denpasar Film Festival 2017, tahun ini ada 171 film yang masuk ke meja DFF 2017. Film-film tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Aceh, Lampung, Jogja, Cilacap, Pekalongan, Kebumen, dan juga dari Bali sendiri tentunya.

Gelaran Denpasar Film Festival 2017 dimulai sejak tanggal 6-10 September 2017. Dengan memutarkan film-film unggulan dari tanggal 6-9 di Gedung Merdeka, Denpasar Art Space, Denpasar. Dan pada tanggal 10 September 2017 Malam Penganugerahan diselenggarakan di Istana taman Jepun, Denpasar, menyajikan berbagai pertujukan kesenian seperti Kolaborasi Dongeng Air karya Slamet Rahardjo Djarot dan Tarian Kontemporer karya Jasmine Okubo yang memukau. Hadir juga Robi Navicula yang membawakan lagu-lagu tentang alam raya dan seisinya, begitu juga Tan Lioe Ie dengan syair yang ia lagukan. Suasana Taman Kamboja malam itu disulap dengan sentuhan artistik penuh dengan cahaya. Semua itu digarap oleh Dibal Ranuh sebagai Skenografer dan Kokok saja selaku penggarap video art pada malam itu. Irama iringan khas Bali mengisi suasana gelaran Malam Penganugerahan Denpasar Film Festival dipandu oleh Slamet Rahardjo Jarot dan Adi Siput.

(*san)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s