Catatan Produksi Dokumenter Pelajar Banjarnegara (PEMBUAT KERANJANG DAWET)

Ditulis oleh : Riska – pelajar SMK Muhammadiyah Majenang

suasana produksi Dokumenter pelajar Banjarnegara

Kamis 23 Maret 2017, Usai sudah produksi film tentang Pemandu Lagu/LC di Serayu Park Banjarnegara. Selanjutnya di teruskan dengan Hari terakhir produksi film dokumenter pelajar Banjarnegara .film yang disutradarai oleh Fajri Ramadhani Nur Magfiroh pelajar asal  SMK Darunnajah Banjarnegara mengupas kisah tentang pembuat keranjang dawet di Banjarnegara.

Masih berpijak  di bawah langit yang sama. Di pagi yang sedikit suntuk  dibuka dengan berdoa bersama sebelum melakukan perjalanan oleh Divisi Spiritual pelajar asal SMK N1 Gombong yaitu Yuni Tulastriningsih. Suasana sunyi menemani perjalanan kami selama di mobil sekitar pukul 07.20 WIB. Tiba di lokasi pertama yaitu Rumah Bapak Nardi di desa Rajasa sekitar pukul 07.30 WIB. Kamera sudah disiapkan. Para pelajar asal SMK Darunnajah Banjarnegara, SMK Muhammadiyah Majenang, SMK N1 Gombong dan SMK Dr.Sutomo Cilacap mulai merekam cara pembuatan keranjang dawet sekitar pukul 07.41 WIB. Gambar wayang Semar mulai diukir di atas kayu, kemudian  di tebali dengan spidol oleh pengrajin  lalu di cat agar lebih indah.  Usai merekam aktifitas Pak Nardi membuat keranjang dawet, para tim mulai mewawancarai pak Nardi.

Pak Nardi lahir sekitar tahun 1960. Usaha berjualan keranjang dawet  dimulai ketika dirinya berusia sekitar 26 tahun. Dirinya meneruskan usaha keturunan ketiga setelah  almarhum Ayahnya wafat. Krisis ekonomi sekitar tahun 1998 membuat banyak pesaing yang bermunculan. Istilah pemesanan dulu disebut dengan Getuk Tulen ialah pembeli langsung  bercabang melalui info lisan dan  membeli langsung datang ke rumah. Pembeli yang paling jauh berasal dari Kalimantan dan Sumatra penjualan juga sampai ke Negara Hongkong. kualitas terbaik keranjang dawet berasal dari kayu manhoni  dijual dengan kurang lebih Rp. 850 K per satu pasang keranjang dawet dengan wayangnya  dan yang murah berasal dari pohon albi di jual seharga Rp. 600 K per pasang, kini usaha keranjang dawet juga di jual online mengikuti perkembangan zaman. Pembeli online terjauh berasal dari lampung dan Medan.

Usai Berbincang sekitar pukul 09.30 WIB dilanjutkan menuju alun-alun Banjarnegara. Arus kendaraan terpantau ramai -lancar. Mereka mulai merekam tugu alun-alun dan suasana keramaian sekitar pukul 09.45 WIB. Awan yang mulai menghitam tidak menyudahi tekad kami, Sekitiar pukul 11.03 WIB kami berbincang dengan penjual dawet ayu yaitu Ibu Yumi, ujarnya Dawet Ayu asal Banjarnegara berbeda dengan dawet lain terbuat dari tepung beras dan gula asli juga ada  campuran buah nangka, Selain disebut Dawet Ayu disebut juga Es Dawet.

Usai sudah berbicang dengan penjual dawet,  kini sekitar pukul 11.34 WIB agenda berbincang dengan penikmat dawet ayu yaitu bapak Tomo, Ciri khas Dawet Ayu Banjarnegara yaitu ada campuran buah nangkanya.  Juga akan ada cita rasa  ingin terus meminum berkali-kali karena rasanya sudah beda dari sabang sampai merauke  ujar penikmat dawet bapak Ahmad Syafi.

Kembali di dekat tenda biru pinggir jalan masjid agung banjarnegara sekitar pukul 11.58 WIB berbincang dengan Bapak Hadi  bercerita lambang wayang semar dan gareng Yang beararti seger jika sedang mareng itu istilah Indonesianya adalah terik matahari yang memancar.

Waktu menunjukan pukul 12.04 WIB kami bergegas pulang ke bascamp, Setibanya kami langsung menyantap makanan dan diteruskan sholat dan istirahat di waktu luang yang ada.

Sekitar Pukul 14.38 perjalanan di lanjutkan menuju desa Jenggawur.Pemandangan asri gunung sumbing dan selamet  terlihat jelas di Sore itu. Jalanan berkelok dan berlumpur serentak mengocok perut kami. Setibanya di rumah bapak Daryanto Tutur sekitar Pukul 14.56 WIB. kami merekam cara menganyam pembuatan keranjang dawet yang berasal dari bambu yang kemudian di buat tipis, di belah, dan diayeti. Hitungan sanam/anyaman seukuran ember kecil dan termos. Satu pasang keranjang dawet membutuhkan 4 pohon bambu. 1 pasang keranjang dawet di jual kurang lebih 150 K sampaI 175 K dan untuk keranjang dawet sepasang dengan wayang di jual kurang lebih 450 K.

Usai sudah sesi wawancara kami pulang ke bescamp sekitar pukul 16.17 WIB. Setibanya kami langsung beristirahat.

Demikian catatan saya mengupas 3 produksi film dokumenter plajar Banjarnegara. Di hari pertama Produksi Film tentang Tugu Peringatan Longsor 1955, Hari kedua produksi film tentag LC di Serayu Park, dan yang ketiga tentang Pmbuat keranjang dawet. Semoga catatan yang saya buat ini bisa bermanfaat dan bisa dijadikan bacaan segar buat anda semua. Sekian dan terimakasih

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s