Catatan Produksi Dokumenter TUGU PERINGATAN

(Ditulis oleh : Riska Rahmayati, pelajar SMK Muhammadiyah Majenang)

Suasana Produksi Dokumenter Pelajar Banjarnegara

Saat itu langit masih gelap gulita, sedikitnya 17 pelajar yang berasal dari SMK  Darunnajah Banjarnegara, SMK  N1 Gombong, SMK Muhammadiyah Majenang dan SMK Dr.Sutomo Cilacap telah berada di sebuah ruang SMK Darunnajah Banjarnegara. Mereka hendak memproduksi 3 buah film yang akan digarap selama 3 hari sejak tanggal 21 sampai dengan 23 Maret 2017. Dan pagi ini, adalah hari pertama produksi dokumenter dimulai.

Waktu menunjukan pukul 05.00 WIB. Sebuah mobil telah menunggu mereka untuk melakukan perjalanan ke Dukuh Legetang kecamatan Batur. Lama perjalanan yang ditempuh kurang lebih sekitar 2 jam.  Suasana canda tawa terdengar jelas mengiringi perjalanan yang sangat dingin. Suhu udara yg menusuk hingga ubun-ubun  tidak mematahkan semangat  17 anak muda untuk berkarya di dunia baru yg mereka pijak. Pada pukul 07.30 WIB, sampailah mereka di sebuah lereng, dukuh Legetang

Agenda di mulai dengan merekam jalanan tanjakan menuju lokasi (tugu peringatan). Suasananya begitu asri. Pemandangan indah sawah-sawah menghampar, perkebunan kentang dan sayur mayur membuat suasana terasa begitu asri. Petani-petani di desa ini setiap hari harus melalui jalanan berbatuan yang licin, menanjak, menuju perkebunan sayur.

Setelah selesai merekam suasana perjalanan menuju Tugu, mereka melanjutkan aktifitas merekam kabut-kabut tebal yg menutupi pegunungan tinggi, sayur mayur tumbuh subur terutama kentang yang saat ini sudah mulai di tanami. Selain itu ada juga bawang merah ,wortel, kubis dan tomat.

Film yang di sutradarai Fiqi Laelatul Azizah ini mengupas kisah mengenai tugu peringatan. Bapak Tangin warga Desa Dukuh Legetang Kecamatan Batur  bercerita mengenai  longsor yang terjadi pada tahun 1955 yang telah menelan korban sebanyak kurang lebih 300 orang. Longsor yang berasal dari gunung Gempirit telah memporak porandakan desa itu sampai beberapa kilometer ke desa lain. Saat itu kecanggihan teknologi belum seperti saat ini. Pada mas itu belum ada tim basarnas. Sehingga proses evakuasi menjadi kendala terbesar dalam bencana yang terjadi tahun 1955 ini. Setelah kejadian longsor tersebut warga ketakutan untuk melewati  jalanan sekitar, karena takut akan ada longsor susulan. Sekitar tahun 1960 tanah Dusun Legetan digunakan kembali untuk bercocok tanam. Pada masa itu, pemerintah setempat berinisiatif membangun tugu peringatan, untuk mengenang sekaligus meningatkan bahwa ditempat itu telah terjadi bencana besar yang menewaskan 300 orang.

Usai berbincang dan mewawancarai Pak Tagin, sekitar pukul 11.00, para pelajar kembali melanjutkan aktifitasnya. kali ini mereka menuju desa Pekasiran. Di sela-sela waktu luang yang ada mereka manfaatkan untuk mengambil gambar dan berfoto ria sembari berjalan menurun menyusuri jalan yang terjal.

Siang hari, sekitar pukul 11.39 WIB, Matahari bersinar terang. Namun sinarnya tak cukup untuk menghangatkan dingin yang merasuk ketubuh kami. Kami sudah sampai di rumah Mbah Suhari. Kali ini obrolan panjang akan terjadi. Mbah Suhari salah satu saksi yang masih hidup ketika longsor tahun 1955 itu terjadi.

Mbah Suhari bercerita longsor terjadi  pada malam hari ketika warga dusun Legetan sedang tertidur lelap. Berdasarkan penuturan mbah Suhari, beberapa waktu sebelum longsor terjadi, masyarakat dusun Legetan telah membuat parit yang lebar persis dibawah bukit/gunung Gempirit. Parit tersebut dibuat dengan tujuan menampung longsoran-longsoran yang berasal dari bukit/gunung Gempirit. Namun apa yang terjadi? Parit yang dibuat oleh masyarakat justru utuh tidak terjamah oleh longsoran bukit tersebut. Bagaikan terbang, patahan dari bukit gempirit tersebut menimpa dusun Legetan. Dan seketika dusun legetan habis porak poranda bersama para penduduk yang tinggal didalamnya.

Selain Mbah Suhari, kisha-kisah tentang dusun Legetang juga disampaikan oleh mas Hafidz. Menurut mas Hafids, pemerintah Banjarnegara tidak terlalu peduli akan keberadaan tugu yang sudah tidak terawat. Warga masyarakat juga tidak peduli dengan keadaan tugu saat ini. Sampai-sampai tulisan tugupun hilang entah pergi kemana ujar Bu Anni salah satu masyarakat Desa Pekasiran, Kecamatan Batur. Harapan dari Pak Umum warga Desa Pekasiran menginginkan agar pemerintah dan masyarakat bisa lebih memperhatikan dan peduli terhadap tugu batu peringatan tersebut. Agar ini dijadikan sebagai peringatan bagi kita semua untuk tetap menjaga keasrian lingkungan.

Setelah selesai menggali informasi dan merekamnya, para pelajar menjalankan kewajiban sholat dzuhur dan diteruskan menyantap makanan hasil bumi Dukuh Legetang yang sudah dipersiapkan. Produksi dokumenter hari ini selesai, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke bescamp. Setibanya di bascamp kurang lebih pukul  15.00 WIB mereka beristirahat sejenak. Mengembalikan tenaga untuk mempersiapkan produksi film selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s