EKSOTISME NDOLALAK

Catatan Produksi Film Dokumenter SMKN1 Kebumen
suuuuuuuu (1)
Sabtu, 16 Agustus 2014. Pagi-pagi benar 8 siswa SMKN1 Kebumen dibantu beberapa siswa dari SMK Muhammadiyah Majenang sudah berada di Pekunden, sebuah desa diatas bukit di kecamatan Kutowinangun. Di desa ini suasananya masih sangat asri. Air mengalir dari mata air, beberapa orang bahkan memanfaatkan air yang mengalir tersebut untuk dikumpulkan dalam galon untuk kebutuhan minum sehari-hari. Sebagian memanfaatkan untuk mandi dan mencuci pakaian.

Dian Maftukhatim seorang siswi SMK N1 Kebumen yang bertempat tinggal tak jah dari Pekunden mencoba merekam aktifitas di desa tersebut. Tak hanya Keasrian desa dan aktifitas warganya, namun juga kesenian yang berkembang di Desa itu. Ya, melalui film dokumenter yang digarapnya ia mencoba mengupas sebuah kesenian yang berkembang dari masa ke masa, yaitu Ndolalak.

Di desa Pekunden ini ada sebuah kelompok kesenian Ndolalak yang menamakan dirinya Krida Arum Sari. Kelompok ini sering diminta mementaskan kesenian Ndolalak untuk hari-hari tertentu. Pendirinya adalah Pak Muritno. Pk Muritno berasal dari Purworjo dan berdomisili di Pekunden Kebumen. Dirinya membawa kesenian tersebut dari Purworejo dan dikembangkan di Kebumen.

Ndolalak dari masa ke masa selalu berkembang. Kemasan pementasan ndolalak yang tadinya terlihat biasa saja, kini terlihat lebih meriah . Para penarinya mengenakan pakaian yang unik, berdandan seperti tentara inggris, namun bercelana ketat pendek, sehingga terkesan sangat seksi. Tak heran banyak sekali lelaki yang tergoda ketika para penari di kesenian Ndolalak sudah mulai menggoyangkan pinggulnya untuk berjoged.

Melalui film ini, Dian ingin mengabadikan aktifitas kesenian Ndolalak di desa tersebut. Desa yang terletak diatas bukit, namun memiliki potensi kesenian yang patut dibanggakan. ” Saya ingin mengangkat kesenian Ndolalak, agar semua masyarakat di Indonesia tau, bahwa di Kebumen masih ada anak-anak muda yang mau meneruskan kesenian Ndolalak” ungkap Dian gadis manis yang gemar mendengar lagu-lagu india melalui handponenya.

Tak hanya itu, beberapa seniman asal Kebumenpun turut serta memberikan komentar atas film tersebut. Baginya perkembangan kesenian itu seharusnya tak menggeser nilai-nilai tradisi. Ndolalak, meski bisa dilaksanakan dengan lagu-lagu modern, namun sampai saat ini masih juga didendangkan lagu-lagu khas daerah yang memilliki kekhasan tersendiri. Banyak lagu-lagu di Ndolalak yang dilagukan khusus untuk memanggil indang yang nantinya akan merasuk di tubuh sang penari, sehingga para penari bisa menari lebih menggairahkan. Indang yang merasuk dalam tubuh sang penari diyakini seorang Dayang atau putri, seperti halnya Dewi Nawangsih, Dewi Nawang Wulan, dll.

Para siswa SMK N1 Kebumen ini menjalankan produksi Film Dokumenter Ndolalak di desa Pekunden dari pagi hingga petang tiba. Lalu malam harinya usai produksi Ndolalak selesai, mereka melanjutkan perjalanan ke Karangsari Kebumen untuk bersiap memproduksi film Batik Tanuraksan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s