MARI BERMAIN DOKUMENTER

hardok-4-pwt.jpgFilm pendek bukanlah film kelas dua yang hanya dipandang sebelah mata. Sebuah stasiun televisi di Australia sudah menayangkan film-film berdurasi satu menit. Jika film panjang mengandalkan alur cerita, maka film pendek menumpukan kekuatan yang utama pada ide.

Nah, ide inilah yang kerapakali menjadi titik kelemahan sineas tanah air. Fenomena itu rupanya ditangkap dengan baik oleh Programer Arisan Film Forum (AFF), Bayu Kesawa Jati. Dengan menggandeng Kafe Bintang di Jalan Adyaksa No. 2 Purwokerto, digelarlah acara pemutaran dan diskusi film Hari Dokumenter (Hardok) #4 bertajuk “Mari Bermain Dokumenter!” pada Sabtu malam (9/6) lalu.

“Saya ingin menunjukkan betapa sejumlah sineas menemukan ide dengan semangat bermain-main, seperti anak-anak. Konsepsi main-main para sineas ini dikolaborasikan dengan kenakalan visual,” tuturnya.

insan2.jpgLihatlah film Anak Pejabat yang dibesut oleh Insan Indah Pribadi dari Sangkanparan, Cilacap. Film ini merekam bagaimana putra-putri para pejabat sebuah perusahaan besar di Cilacap bermain-main di tengah acara pengajian.
Sementara di podium seorang kyai sedang menyampaikan dakwah, di bawah podium seorang anak perempuan dan laki bermain smackdown. Anak-anak yang lain menabuh alat musik yang tergeletak di pojokan ruang dan sebagian sisanya bermain petak-umpet dengan riangnya.

Insan mengaku terkesima melihat pemandangan itu. “Saya tidak menyalahkan anak-anak yang berlaku demikian. Saya hanya bertanya-tanya, seperti apa mereka dididik orang tuanya. Karena pemandangan itu lucu dan terasa kontras, saya tangkap saja peristiwa itu menjadi film,” imbuhnya.

Isu Keperawanan
heru2.jpgSutradara Heru C. Wibowo dari UTDC Film Purbalingga juga membagikan proses letikan ide pembuatan film Mahkotaku 50:50. Menangkap pertanyaan seorang karibnya mengenai keperawanan, Heru mencari jawab dengan menanyakannya pada para pelajar.

Film sepanjang lima menit itu merekam jawaban para pelajar SMA dan SMP dari Purbalingga, Cilacap, Purwokerto dan Banjarnegara. Dengan apa adanya, Heru menampilkan silang pendapat dari para pelajar. Sebagian menganggap keperawanan dan keperjakaan penting, sementara yang lain tidak.

Gaya spontan menanggapi pertanyaan tak biasa itu kerap menghadirkan momen yang lucu. “Saya mencari jawaban atas pertanyaan usil itu dengan membuat film ini, sekaligus juga menyampaikan opini saya tentang isu kerjakaan dan keperawanan di tengah kaum muda saat ini,” jelasnya.

Film Adu Jago yang beberapa waktu lalu menggondol predikat sebagai Film Dokumenter Terbaik pada Malang Film-Video Festival (Mafvie Fest) 2007, semakin menambah gayeng para penonton malam itu.

Bowo Leksono, sang sutradara, memotret proses pemilihan kepala desa di Purbalingga dengan kenakalan visual. Bowo mencegat beberapa orang pemilih yang datang dari jauh untuk menanyakan motif mereka memberikan suara. Penonton tertawa mendapati banyak jawaban polos nan lugu, apalagi Bowo memakai bahasa ngapak-ngapak yang menjadi khas Banyumas.

Selain itu, film Lelaki Pesolek karya sutradara Niken Devi dan Atik Rindarsih dari Tjapgadjah Production (SMAN 1 Purbalingga) juga turut diputar. Sayangnya, kedua sineas perempuan ini tak bisa hadir untuk berbincang hangat dan membagi pengalaman dengan publik penonton malam itu. Bayu sempat membocorkan pesan singkat yang diterima dari salah satu sutradara. “Niken sebenarnya ingin sekali datang untuk presentasi dan diskusi di sini, tapi ndak boleh keluar malam sama ibunya,” katanya sembari tertawa.*

(ditulis oleh Sihar-Suara Merdeka. Kamis, 14 Juni 2007)

Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s